2/20/2009

Berburu Salak di Turi

Tak ada rencana matang buat berburu salak di Turi,hanya sedikit sms’an semalaman sampe pulsa makin sekarat sudah cukup buat mengumpulkan anak buah untuk berburu salak pondoh esok pagi.

Hari minggu ketika matahari sudah mulai beranjak keatas namun belum tepat diatas kepala gw yg sedikit diselimuti awan mendung yang membuat rasa ragu2 gw muncul ,akankah terjadi hujan siang nanti, namun setelah ditunggu-tunggu ternyata awan mendung pergi juga krn tiupan angin. Akhirnya berempat gw berangkat juga sebelum matahari berada tepat diatas kepala gw ,dengan berbekal mantel saja sudah cukup pabila diserang hujan dlm perjalanan.

Gw langsung cabut dari tempat kumpul dirumah si kicruh salah satu temen gw dengan melewati jamal alias jln.magelang inilah jalur yang gw pake, walaupun semakin siang makin semrawut saja jalan ini. Ukuran badan jalan memang lebar tapi tetap saja harus hati2 karena justru jalan yang lebar ini sering kali dipake para pengguna jalan (termasuk gw) untuk kebut-kebutan karena dikejar oleh sang waktu yang tak pernah mau kompromi ,apalagi yang lewat adalah bus kota yang menurut gw sangat egois dengan asap hitam pekatnya yang menyebalkan.

Kurang lebih pada kilometer 11’an gw belok kekanan alias ketimur ,saat masuk perkampungan ini sebenarnya sudah tampak dikanan-kiri jalan tumbuh menjamur pohon salak yang tumbuh sesuka hati dipinggir jalan walaupun tak ada seseorang yang menanamnya ,namun belum saatnya gw sampe ditempat tujuan karena jalan yang gw lewati masih belak-balok sampe gw gak tau arah mata angin pd waktu itu ,karena gw hanya ngebuntuti si navigator gw yang pake motor warna biru dr belakang .

Suasana di jalan yang sejuk dg sedikit awan mendung yang melindungi kulit gw dr sengatan panas matahari yang sedang bersahabat dg gw kali ini dan aspal yang halus membuat semakin nyaman saja saat duduk diatas jok motor dg kecepatan rata2 60 km/jam, hingga tak terasa tibalah juga gw ditempat tujuan ,dr kejauhan sudah tercium aroma wangi salak pondoh yang lebih tajam dari parfum para cewek2 yang biasa gw temui setiap hari.

Terlihat juga dipinggir jalan ibu2 yang menjajakan salak hasil panenannya yang sedang melimpah musim ini,beruntung saat gw bertandang kesana passs lagi panen salak jadi gak perlu pikir panjang buat merogoh uang dlm dompet ,apalagi dompet gw yang selalu tipis karena uang gak pernah betah berlama-lama didalam dompet . dengan wajah yang terlihat letih dan sedikit bingung karena perjalanan yg bikin pinggang pegel dan cacing perut yang meronta-ronta minta makan krn tadi pagi belum sempat sarapan sesendokpun, akhirnya gw berempat istirahat sejenak sambil membahas apa yang akan dilakukan selanjutnya .

15 menit berselang akhirnya hasil rapat diumumkan juga setelah mencari suara terbanyak bahwa semua sepakat membeli salak diluar agrowisata. Dengan sedikit tawar menawar harga dg si ibu penjual salak akhirnya menyerah juga si ibu itu ,dengan uang 20 Ribu saja gw dapet 6 Kg salak untuk berempat, setelah transaksi jual beli selesai gw lanjutkan membeli tiket masuk,kali ini tanpa tawar-menawar harga dg si penjaga loket .

Salak 2 Kg gw jadikan bekal saat jalan2 didalam agrowisata sedangkan 4 Kg buat oleh2 keluarga masing2 drumah. Didalam agrowsata banyak kebun salak yang katanya mempunyai 17 jenis salak ,ntah salak merek apa saja yang ditanam yang jelas salah satunya yang sedang gw makan ini. Untuk mencicipi salak yang bermacam-macam tadi butuh pemandu buat masuk kesana dan tentunya butuh biaya tambahan buat nyewa si pemandu itu, kurang lebih 10 Ribu biaya yang harus dikeluarkan dr dompet .

Kalau dipikir2 memang tepat jg hasil analisis temn2 gw tadi untuk membeli salak diluar, krn uang 10 Ribu saja kalau dijadikan salak sudah dapat 3 Kg’an lebih sdikit. Memang temn2 gw sangat jeli kalau dihadapkan pada masalah pengeluaran uang seperti ini ,kadang2 juga sehabis jalan2 selalu saja ada yang ngitung2 duit yang habis buat foya2,siapa lagi kalau bukan si agoes yang kadang2 terlihat terdiam merenung krn dlm otaknya sedang bekerja bagaikan kalkulator ,maklum saja masih jadi mahasiswa pengangguran :D.

Didalam gw hanya jalan2 saja mengelilingi kebun2 salak yang hampir dewasa dengan langkah yang sedikit malas krn keasyikan ngemil salak sambil memandang wisatawan lain yang juga jalan2 ,barang kali ada cewek manis semanis salah pondoh yang gw kunyah saat ini.

Swasana dsana terasa segar dengan udara yang bersih karena jauh dr jalan raya yang sudah penuh sesak dg polusi udara yang tak terkendalikan lagi.

Selain tanaman salak masih ada tanaman lain yang dibudidayakan dsana, seperti tanaman apotik hidup contohnya jahe,kunir , dan kawan2nya yang tak terasa telah gw injak2 krn keasyikan ngobrol dan ngemil salak . saking asyiknya ngobrol dan ngemil salak ,bekal 2 Kg salak yang gw beli diluar tadi disikat habis berempat tanpa sisa ,hanya meninggalkan bijinya saja yang tak ada yang berminat menghabisinya .

Mungkin krn suasana yang dingin itu yang membuat mulut ingin selalu mengunyah apa saja yang bisa dimakan ,bahkan tanganpun ikut bereaksi setelah melihat sesuatu yang menonjol didekat tempat gw berjalan2 yang seolah-olah merayu gw untuk segera menghampirinya dengan aromanya yang khas . tanpa ragu2 dan tanpa bimbang dirabalah ia dan ditariklah sesuatu yang menonjol itu dengan penuh perasaan.

Seperti inilah contoh orang2 yang suka dengan sesuatu yang menonjol itu, jangan pernah meniru adegan ini ditempat yang rame ,cobalah ditempat yang sepi mungkin lebih aman bagi keselamatan jiwa anda hehehe…

Dengan susah payah dan penuh kesabaran akhirnya berhasil juga walaupun tangan sedikit sobek2 seperti ditusuk2 jarum jahit ,namun ada kenikmatan tersendiri kata temn gw dr hasil jerih payah yang membutuhkan pengorbanan tadi .

Diantara kebun2 itu terdapat kolam ikan ditengah yang cukup luas ukurannya, kurang lebih seluas lapangan sepak bola orang dewasa, didekat kolam itu sebenarnya sudah terdapat peringatan dilarang mancing tapi tetap saja ada orang illegal yang nekat mancing dg santainya seperti dipemancingan umum.

Setelah jalan2 yang melelahkan ini ,akhirnya gw istirahat ditaman yang terlihat rapi dan bersih krn dirawat tiap pagi seperti kamar tempat tidur gw sehari-hari . dengan berbagai macam bunga yang ditanam dsana ntah bunga apa yang ditanam gw kurang hafal satu persatu namanya, yang selalu mendatangkan kawanan lebah dan kupu2 yang berebut ingin memiliki keindahannya .

Gw istirahat disebuah rumah kecil bertingkat yang kurang lebih seukuran kamar kost2an ,sambil duduk diatas pagar yang terbuat dr semen, gw melihat sepasang muda-mudi yang tengah bercumbu yang terlihat PD (percaya diri) saja walaupun gw ada dihadapannya sedang asyik berfoto2 .

Dari atas rumah bertingkat ini terlihat hamparan pohon salak yang tumbuh subur ntah berapa hektar luasnya yang jelas mata gw sudah tak mampu menjangkau pandangan yang lebih jauh lagi walaupun sudah pake bantuan kacamata.

Tak terasa sang waktulah yang tak pernah mau kompromi ini memaksa gw untuk segera berpaling dari tempat yang serba hijau ini , , ,

Sampai jumpa pada keluyuranku gw selanjutnya…….!!

harus baca selengkapnya... :D

Pantai Siung


Waktu gw bertandang ke pantai siung ini, terlihat berbeda dr pantai2 tetangganya yang lain yang ada di kawasan gunung kidul,walaupun pantai siung ini cukup kecil tapi mempunyai keunikan tersendiri diantaranya banyak tebing2 tinggi entah tingginya berapa lantai yang berada ditepi pantai sejak jutaan tahun yang lalu.

Pak Marno lah yang mereferensikan pantai ini ke gw untuk dicoba ,dan akhirnya berempat gw berangkat walaupun rencana sebelumnya ada 5 orang.

Cukup jauh jarak yang ditempuh dr kota jogja ,kurang lebih 2 jam’an bila ditempuh dg kendaraan pribadi. Tak ada satupun dr kami yang tau jalur menuju kesana ,hanya mengandalkan feeling dan papan penunjuk jalan milik pemerintah yang berwarna hijau yang biasanya ditanam didekat persimpangan atau tikungan ,selain itu jg ada papan penunjuk jalan buatan warga setempat yang terbuat dr triplek bekas yang ditulisi dg kapur yang sudah tak layak lagi dipandang mata setiap orang yang melintas ,bahkan rayappun malas menggerogotinya karena sudah hampir hancur karena kepanasan dan kehujanan sepanjang hari,walaupun begitu papan penunjuk jalan itu sudah cukup membantu dalam perjalanan gw yang masih buta arah ini.

Perjalanan yang naik-turun ditambah lg masih belak-belok khas gunung kidul seperti ular tangga mainan gw saat kecil dulu yang membuat gw menahan nafas sepanjang perjalanan ,namun aspal yang gw lewati cukup halus sehalus kulit wajahku tanpa ada sedikitpun tambal-tambalan aspal.

Pantai yang berada dikecamatan tepus gunung kidul ini memang masih terlihat sepi disamping itu jg berada didaerah pelosok yang belum ada listriknya waktu gw kesana,bahkan sebuah Hp pun (Handphone) menjadi barang yang tak berguna sama sekali karena tak ada sedikitpun sinyal yang mau mampir keHP gw.

Masa bodoh dg rasa cape diperjalanan dan Hp yang sudah tak bernyawa ini,gw langsung menuju kepantai dg pasir putih yang agak besar2 yang bikin perih telapak kaki gw. walaupun sinar matahari menyengat kulit tubuh gw yang sawo matang ini dg tanpa ampun tapi gw tatap lanjutkan jalan2 ditepi pantai dg tertiup angin berhembus yang sejukkan hati dan damaikan diri sambil melihat biru….. lo lo lohh kok mirip lirik lagunya caffeine yang judulnya biru :D…

Gw coba naikki bukit yang ada disebelah timur yang masih terlihat hijau karena banyak ditanami palawija oleh petani setempat, cukup tinggi jg bukit yang gw naiki ini ,tak cukup dg kedua kaki saja buat naik ke bukit ini tapi butuh bantuan kedua tangan buat mencari celah agar bisa merayap seperti spiderman yang biasa gw liat dr computer temn gw dikost. Dengan susah payah akhirnya sampai jg diatas. Sambil berteduh dibawah pohon pandan yang hanya tumbuh satu ini gw berempat istirahat sejenak bersembunyi dr kejaran sengatan matahari yang bisa menyulap kulit tubuh gw jadi sawo gosong bukan sawo matang lagi. Terlihat menyeramkan jurang yang ada dibawah tempat gw istirahat ini yang membuat geli telapak kaki gw, namun terasa semilir angin yang berhembus dr samudra hindia ini yang menghempaskan rambut gw berulang kali.yg bikin hawa ngantuk saja.

Diatas sini gw tak dapat berlama-lama lagi krn harus berbagi waktu dg daerah yang belum gw jelajahi dikawasan pantai siung ini..

Tebing2 tinggi yang ada disebelah barat adalah target gw yang kedua , untuk naik ke daerah yang bertebing ini sebenernya agak sulit juga krn gw harus naik batu2 karang dg ruang yang sempit, namun keadaan yang tak mengenakkan ini hanya berlangsung sebentar saja walaupun nanti saat pulang jg melewatinnya lagi.

Dari tebing2 tinggi yang berwarna hitam ini banyak ditumbuhi akar2 yang memeluk dg mesra tebing itu seolah tak ingin dipisahkan oleh siapapun dan sampai kapanpun, disekitar tebing ini jg terdapat pohon2 pandan yang lumayan besar yang tumbuh berkelompok bersama jenisnya dg duri2 kecil yang bisa melukai siapapun yang menyentuhnya .

Perjalanan gw teruskan dg melewati celah2 dari tebing2 ini yang biasa digunakan para pecinta panjat tebing untuk menyalurkan hobbynya .

Ntah apa yang terjadi ,disini gw dapat merasakan panas yang tak seperti biasanya yang membuat kulit gw jadi bener2 gosong kali ini ,tak ada sedikitpun tempat yang dapat gw jadikan sebagai penangkis dari kejaran sinar matahari yang tak mau berhenti mengejar-ngejar gw.

Diatas tebing sering kali banyak monyet2 berekor panjang yang sedang wara-wiri ntah apa yang sedang dilakukannya dibawah terik panas matahari yang ganas ini. kadang2 juga terlihat diam seribu bahasa melihat kedatangan gw disana . lama-kelamaan banyak jg monyet yang berdatangan seperti melihat artis akan lewat saja dg tatapannya yang serius sambil menggaruk-garuk perut dg kakinya yang mirip dg tangan.

Gw urungkan saja untuk melanjutkan perjalanan ini krn gw takut ditelanjangi monyet2 yang terlihat tidak jinak ini ,apalagi daerahnya yang sangat sepi tak ada orang lain selain gw dan si kicruh yang masih mempunyai sedikit jiwa narcisz disana ,krn kedua temn gw sudah angkat tangan tak mampu lagi melanjutkan jalan2 dibawah terik matahari yang benar2 menguras tenaga ini.

Dengan agak terburu-buru gw segera turun dr daerah yang bertebing ini sebelum gw dikeroyok monyet2 brengsek itu, tak ada jalur lain yang harus dilewati selain menerobos jalan sempit diantara batu2 besar seperti saat berangkat tadi. Hingga akhirnya gw sampai juga ditempat parkir untuk istirahat sejenak sambil memesan makanan dan minuman walaupun warung ini tak terlihat selayaknya warung makan pada umunya tapi tetap melayani siapapun yang akan makan. Tak ada menu yang ditawarkan disini krn disini hanya menyediakan ikan laut goreng saja hasil tangkapan suaminya tadi pagi.

Untuk menengguk setetes es tehpun gw harus bersabar menunggu sekitar 45 menit’an krn si penjual harus merantau dulu entah kenegeri mana hanya untuk mencari sebongkah es batu, maklum saja disini listrik masih belum masuk.

Menurut pengamatan gw dipantai siung ini hanya terdapat beberapa warung saja yang berjualan ditepi pantai dan jumlahnya pun tak lebih dari jumlah jari tangan kanan gw.

Saat2 yang ditunggupun tiba juga ,sepiring nasi putih dg lauk ikan laut goreng dan segelas es teh telah dihadirkan dihadapan gw satu persatu. Tanpa perlu gw cicipi ,langsung saja gw sikat mumpung masih hangat sebelum diserbu kawanan lalat yang sudah lama mengintip dari luar.

Tak butuh waktu lama untuk menghabisinya walaupun gw makan tanpa bantuan sendok tapi dg kelima jari tangan kanan gw. Sambil leyeh2 sehabis makan dan menatap keselatan melihat ombak yang terlihat malas bergerak krn telah terhadang batu karang besar ditengah laut.

Setelah selesai menikmati pemandangan dr dalam gubuk bambu yang nyaman ini ,gw segera menghitung semua yang telah gw makan berempat tadi. Bersama si ibu penjaga warung si agoes melakukan transaksi pembayaran dg jari tangan yang menunjuk-nunjuk kearah meja makan tadi ..

tak disangka-sangka seporsi makanan tadi hanya dihargai Rp.4000 saja ,sungguh percaya nggak percaya murahnya bikin ketagihan.

Mungkin inilah kelebihan dari tempat wisata yang masih terpencil….

Sampai jupa pada keluyuran gw berikutnya ….!!


harus baca selengkapnya... :D