Waktu gw bertandang ke pantai siung ini, terlihat berbeda dr pantai2 tetangganya yang lain yang ada di kawasan gunung kidul,walaupun pantai siung ini cukup kecil tapi mempunyai keunikan tersendiri diantaranya banyak tebing2 tinggi entah tingginya berapa lantai yang berada ditepi pantai sejak jutaan tahun yang lalu.
Pak Marno lah yang mereferensikan pantai ini ke gw untuk dicoba ,dan akhirnya berempat gw berangkat walaupun rencana sebelumnya ada 5 orang.
Cukup jauh jarak yang ditempuh dr
Perjalanan yang naik-turun ditambah lg masih belak-belok khas gunung kidul seperti ular tangga mainan gw saat kecil dulu yang membuat gw menahan nafas sepanjang perjalanan ,namun aspal yang gw lewati cukup halus sehalus kulit wajahku tanpa ada sedikitpun tambal-tambalan aspal.
Pantai yang berada dikecamatan tepus gunung kidul ini memang masih terlihat sepi disamping itu jg berada didaerah pelosok yang belum ada listriknya waktu gw kesana,bahkan sebuah Hp pun (Handphone) menjadi barang yang tak berguna sama sekali karena tak ada sedikitpun sinyal yang mau mampir keHP gw.
Masa bodoh dg rasa
Gw coba naikki bukit yang ada disebelah timur yang masih terlihat hijau karena banyak ditanami palawija oleh petani setempat, cukup tinggi jg bukit yang gw naiki ini ,tak cukup dg kedua kaki saja buat naik ke bukit ini tapi butuh bantuan kedua tangan buat mencari celah agar bisa merayap seperti spiderman yang biasa gw liat dr computer temn gw dikost. Dengan susah payah akhirnya sampai jg diatas. Sambil berteduh dibawah pohon pandan yang hanya tumbuh satu ini gw berempat istirahat sejenak bersembunyi dr kejaran sengatan matahari yang bisa menyulap kulit tubuh gw jadi sawo gosong bukan sawo matang lagi. Terlihat menyeramkan jurang yang ada dibawah tempat gw istirahat ini yang membuat geli telapak kaki gw, namun terasa semilir angin yang berhembus dr samudra hindia ini yang menghempaskan rambut gw berulang kali.yg bikin hawa ngantuk saja.
Diatas sini gw tak dapat berlama-lama lagi krn harus berbagi waktu dg daerah yang belum gw jelajahi dikawasan pantai siung ini..
Tebing2 tinggi yang ada disebelah barat adalah target gw yang kedua , untuk naik ke daerah yang bertebing ini sebenernya agak sulit juga krn gw harus naik batu2 karang dg ruang yang sempit, namun keadaan yang tak mengenakkan ini hanya berlangsung sebentar saja walaupun nanti saat pulang jg melewatinnya lagi.
Dari tebing2 tinggi yang berwarna hitam ini banyak ditumbuhi akar2 yang memeluk dg mesra tebing itu seolah tak ingin dipisahkan oleh siapapun dan sampai kapanpun, disekitar tebing ini jg terdapat pohon2 pandan yang lumayan besar yang tumbuh berkelompok bersama jenisnya dg duri2 kecil yang bisa melukai siapapun yang menyentuhnya .
Perjalanan gw teruskan dg melewati celah2 dari tebing2 ini yang biasa digunakan para pecinta panjat tebing untuk menyalurkan hobbynya .
Ntah apa yang terjadi ,disini gw dapat merasakan panas yang tak seperti biasanya yang membuat kulit gw jadi bener2 gosong kali ini ,tak ada sedikitpun tempat yang dapat gw jadikan sebagai penangkis dari kejaran sinar matahari yang tak mau berhenti mengejar-ngejar gw.
Diatas tebing sering kali banyak monyet2 berekor panjang yang sedang wara-wiri ntah apa yang sedang dilakukannya dibawah terik panas matahari yang ganas ini. kadang2 juga terlihat diam seribu bahasa melihat kedatangan gw disana . lama-kelamaan banyak jg monyet yang berdatangan seperti melihat artis akan lewat saja dg tatapannya yang serius sambil menggaruk-garuk perut dg kakinya yang mirip dg tangan.
Gw urungkan saja untuk melanjutkan perjalanan ini krn gw takut ditelanjangi monyet2 yang terlihat tidak jinak ini ,apalagi daerahnya yang sangat sepi tak ada orang lain selain gw dan si kicruh yang masih mempunyai sedikit jiwa narcisz disana ,krn kedua temn gw sudah angkat tangan tak mampu lagi melanjutkan jalan2 dibawah terik matahari yang benar2 menguras tenaga ini.
Dengan agak terburu-buru gw segera turun dr daerah yang bertebing ini sebelum gw dikeroyok monyet2 brengsek itu, tak ada jalur lain yang harus dilewati selain menerobos jalan sempit diantara batu2 besar seperti saat berangkat tadi. Hingga akhirnya gw sampai juga ditempat parkir untuk istirahat sejenak sambil memesan makanan dan minuman walaupun warung ini tak terlihat selayaknya warung makan pada umunya tapi tetap melayani siapapun yang akan makan. Tak ada menu yang ditawarkan disini krn disini hanya menyediakan ikan laut goreng saja hasil tangkapan suaminya tadi pagi.
Untuk menengguk setetes es tehpun gw harus bersabar menunggu sekitar 45 menit’an krn si penjual harus merantau dulu entah kenegeri mana hanya untuk mencari sebongkah es batu, maklum saja disini listrik masih belum masuk.
Menurut pengamatan gw dipantai siung ini hanya terdapat beberapa warung saja yang berjualan ditepi pantai dan jumlahnya pun tak lebih dari jumlah jari tangan kanan gw.
Saat2 yang ditunggupun tiba juga ,sepiring nasi putih dg lauk ikan laut goreng dan segelas es teh telah dihadirkan dihadapan gw satu persatu. Tanpa perlu gw cicipi ,langsung saja gw sikat mumpung masih hangat sebelum diserbu kawanan lalat yang sudah lama mengintip dari luar.
Tak butuh waktu lama untuk menghabisinya walaupun gw makan tanpa bantuan sendok tapi dg kelima jari tangan kanan gw. Sambil leyeh2 sehabis makan dan menatap keselatan melihat ombak yang terlihat malas bergerak krn telah terhadang batu karang besar ditengah laut.
Setelah selesai menikmati pemandangan dr dalam gubuk bambu yang nyaman ini ,gw segera menghitung semua yang telah gw makan berempat tadi. Bersama si ibu penjaga warung si agoes melakukan transaksi pembayaran dg jari tangan yang menunjuk-nunjuk kearah meja makan tadi ..
tak disangka-sangka seporsi makanan tadi hanya dihargai Rp.4000 saja ,sungguh percaya nggak percaya murahnya bikin ketagihan.
Mungkin inilah kelebihan dari tempat wisata yang masih terpencil….
Sampai jupa pada keluyuran gw berikutnya ….!!






1 komentar:
Salam kenal. Makaannya susah, tapi pantainya cantik ya. kami sekeluarga pernah ke sana dan pengen ke sana lagi. Semoga masih terpelihara alamiahnya, jangan seperti pantai baron seperti pasar.
Poskan Komentar